Gara-gara Main Kawin-Kawinan, 4 Bocah SD Disetubuhi 10 Bocah Teman Bermain

Diterbitkan Tanggal: 22 / 11 / 16

Kategori: | PENDIDIKAN, Tanah Datar |

 

sd-prohatin

RIAUEXPRESS.COM, TANAH DATAR: Menyayat hati rasanya, dalam hitungan jam, media massa belakangan ini santer mengabarkan kisah-kisah tragis dan miris putra-putri Tanah Datar, Sumatera Barat yang menjadi korban pedofilia.

Tentu saja tragedi itu hanya sebagian kecil yang mencuat ke permukaan. Sebelumnya tak sedikit kasus yang melibatkan kekerasan seksual anak-anak di ekspos di berbagai media massa. Menilik kasus-kasus itu pelakunya beragam, mulai dari orang yang tak dikenal maupun orang dikenal sebelumnya, juga dilakukan oleh orang-orang dekat.

Seperti kasus yang terjadi di Jorong Aur Duri, Nagari Batu Bulek, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Prov. Sumatera Barat.

Senin (31/10/16), dengan modus main kawin-kawinan, 4 siswi yang masih duduk dibangku sekolah dasar, disetubuhi 10 siswa yang merupakan teman satu sekolahannya, mereka rata-rata berusia 7 hingga 12 tahun.

Menurut informasi masyarakat, perbuatan asusila anak dibawah umur itu dilakukan beramai-ramai sepulang sekolah dan sudah berlangsung berkali kali disaat bermain bersama.

“Awalnya, salah seorang guru mengaji merasa curiga dengan gelagat yang terjadi pada bocah-bocah tersebut, setelah kami menanyakan kepada pelaku dan korban, alangkah terkejutnya kami mendengar cerita lugu dari murid sekolah dasar tersebut”, ujar Andi guru mengaji pelaku dan korban Selasa (1/11/16).

Menindak lanjuti kejadian itu, SDN 24 Aur Duri yang berada di Nagari Batu Bulek Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, melakukan penyuluhan kepada seluruh masyarakat lingkungan dan orang tua murid untuk mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak lagi terjadi di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SDN 24 Aur Duri Nilhusna, menyesalkan kejadian ini, serta khawatir pihaknya dianggap lalai dalam hal ini.

“Yang sangat kami khawatirkan hal ini terjadi disaat jam sekolah, sehingga ada kesan kami lalai melakukan pengawasan kepada anak didik kami, tapi bagaimanapun kami tetap berinisiatif melakukan penyuluhan dengan melibatkan Muspika”, ujar Nilhusna.

Nilhusna berharap, untuk melakukan pengawasan di luar jam sekolah meminta orang tua harus lebih hati hati menjaga anaknya baik disaat dirumah maupun disaat diluar rumah.

“Pihak sekolah akan tetap membuka diri kepada orang tua jika harus dibutuhkan, baik bantuan bimbingan dan konsultasi maupun penyelesaian masalah yang terjadi di luar sekolah. Intinya di sekolah kami yang menjaga anak didik dengan pengawasan ketat”,  tutur Nilhusna.

Betapa rusaknya lingkungan pendidikan yang harusnya tempat membina dan menggembleng karakter generasi masa depan, malah menjadi sarang dari cikal bakalnya predator seksual.

Budi Wahendro, seorang pengamat sosial asal Kota Bukittinggi mengatakan, fenomena maraknya kasus cabul di Tanah Datar tidak terlepas dari masalah sosial, ekonomi, serta kurangnya pemahaman akan norma-norma dan etika yang seharusnya sudah diajarkan sejak dini.

“Bagaimana bocah-bocah berusia sekolah dasar itu telah mengenal seks, sehingga membuat mereka dewasa secara instan?. Salah satu faktornya menurut saya, mereka hidup di keluarga yang tidak sehat. Adanya permasalahan sosial, kurangnya pendidikan, hidup miskin, dan dhuafa menjadi masalah krusial yang menyebabkan kurangnya kontrol orang tua terhadap anak-anak mereka, sehingga berdampak terhadap pergaulan seks bebas yang ujung-ujungnya tak sedikit yang terjerumus ke human trafficking, pelacuran dan prostitusi” Tandas Budi Selasa (1/11/16).

Budi menambahkan, perlunya peran aktif pemerintah daerah untuk mengatasi semua kesenjangan yang ada.

“Dengan kejadian ini, kira-kira apa yang ada di benak para pejabat daerah setempat?. Harusnya Pemda setempat lebih tanggap menyikapinya. Rangkul semua elemen yang ada, dan lakukan penyuluhan serta pendidikan seks sejak dini, beri pemahaman anak akan batasan-batasan pergaulan sesuai norma-norma yang ada”, Tambah Budi.

Sementara itu, Kapolres Tanah Datar AKBP. Irfa Asrul Hanafi, SIK mengaku kewalahan menangani maraknya kasus cabul akhir-akhir ini. Kapolres juga mengeluhkan minimnya anggaran Polri sehingga membuat pihaknya tidak bisa maksimal melakukan sosialisasi serta penyuluhan guna menekan angka pencabulan di Tanah Datar.

“Kita memang kewalahan untuk mengungkap dan menangkap para pelaku kasus cabul ini, tetapi kita akan tetap komitmen memberantas dengan cara melakukan pencegahan dan mengungkap kasus-kasus cabul. Disaat anggaran Polri/Polres yang sudah tidak ada, kami hanya bisa berharap kepada pihak pemerintah daerah mensupport dari segi moril dan materil guna memperlancar operasional penyidikan dan pencegahannya”, Tutup Kapolres. [MEG 7]

Laporan: Joni Hermanto

Editor: Mislam

(Visited 677 times, 1 visits today)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!