Susah Bangun Pagi, Seorang Pengemis Nekat Bangun Rumah

Diterbitkan Tanggal: 07 / 01 / 17

Kategori: | NUSANTARA |

Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

SUMBAREXPRESS, JAKARTA – Modus yang dilakukan pengemis untuk menipu di Indonesia cukup beragam. Demi mendulang rupiah, banyak pengemis yang mencari berbagai cara agar mendapat belas kasihan.

Mulai dari berpakaian lusuh layaknya orang miskin, berpura-pura catat, hingga membawa anak-anak mereka. Ternyata cara itu efektif, uang yang terkumpul dari hasil mengemis pun tak jarang membuat masyarakat geleng-geleng kepala.

Dari beberapa kasus razia gelandang dan pengemis (Gepeng), didapati penghasilan pengemis-pengemis di Indonesia mencapai angka yang fantastis.

Semisal, mengacu dari Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta pekerja kantoran yakni sebesar Rp 3.1 juta, pengemis-pengemis ini bisa mendapat dua kali lipatnya.

Fakta yang ditemukan petugas dinas sosial tiap daerah, pendapatan kasar rata-rata seorang pengemis mencapai Rp 200 ribu – Rp 500 ribu tiap harinya. Sehingga tidak sedikit, pengemis yang mengaku mampu membeli sebuah rumah untuk keluarganya, punya mobil dan kartu kredit sampai tabungan hingga ratusan juta.

Berikut kisah pengemis-pengemis yang ternyata lebih kaya dari pekerja kantoran di Indonesia yang berhasil dihimpun :

  1. Susah Bangun Pagi, Seorang Pengemis Nekat Bangun Rumah

Seorang pengemis kaya diamankan saat razia gelandangan dan pengemis di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

“Saat razia Sabtu sore kemarin, ada pengemis yang setelah diperiksa ternyata memiliki mobil sedan, kartu ATM dan kartu kredit. Selain itu juga ada beberapa pengemis lainnya yang terjaring,” kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotawaringin Timur, Bima Ekawardhana di Sampit, Minggu (12/6/2016). Demikian dikutip dari Antara.

Pengemis kaya itu adalah Arif Komady yang mengaku berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pengakuan itu didukung bukti mobil sedan miliknya yang menggunakan nomor polisi Kalimantan Selatan.

Arif dan dua pengemis lainnya terjaring saat Satuan Polisi Pamong Praja bersama Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotawaringin Timur melakukan razia di kawasan Taman Kota dan ikon kota Patung Jelawat.

Kepada petugas, Arif mengaku datang ke Sampit bersama istri dan anaknya dengan tujuan mengemis. Selain cacat fisik yang dideritanya, kebiasaan malas bangun pagi menjadi modal baginya mencari banyak uang memanfaatkan rasa iba para dermawan.

Namun siapa menyangka, Arif ternyata bukanlah pengemis miskin yang meminta-minta untuk berjuang agar tidak kelaparan. Arif justru dapat dikatakan mampu secara materi dengan bukti dapat membangun rumah mewah, mobil, kartu ATM dan kartu kredit yang dimilikinya.

Menggunakan mobil sedannya, Arif mengaku dalam sebulan terakhir sudah mengemis di beberapa kota seperti Kapuas, Palangka Raya, Kasongan, Kereng Pangi dan Sampit. Melihat kondisi tubuhnya yang mengalami cacat, memang orang tidak percaya bahwa dia memiliki dan mampu mengendarai mobil, namun kenyataan tidak demikian.

Kejadian ini kembali menunjukkan fakta bahwa memang tidak sedikit orang yang menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Tidak sekali ini saja, beberapa waktu lalu petugas juga menjaring seorang pengemis perempuan yang mengantongi uang jutaan rupiah dan sejumlah sertifikat tanah.

“Razia dilakukan karena banyaknya laporan masyarakat yang merasa resah dengan makin banyaknya gelandangan dan pengemis. Sebagian besar memang berasal dari luar daerah,” kata Bima.

     2. Siswari, Pengemis Yang Punya Deposito Ratusan Juta Rupiah

Siswari Sri Wahyuningsih (51), seorang pengemis dan pengamen yang tiap hari mengemis dan mengamen di sekitar lampu lalu lintas Kawasan Yos Sudarso, Kota Semarang, Jawa Tengah, ternyata memiliki uang deposito sebesar Rp 140 juta dan tabungan sebanyak Rp 16 juta.

“Pengemis itu sudah beberapa hari yang lalu ditangkap Satpol PP Kota dan diserahkan ke kami. Setelah saya interogasi dan diperiksa tasnya, ada uang tunai gendelan dan recehan sampai Rp 400 ribu, deposito Rp 140 juta, dan uang tabungan di Bank BNI 46 Sayangan sebesar Rp 16 juta,” kata Kepala Balai Rehabilitasi Sosial (Resos) Among Jiwo, Ridwan, Selasa (22/3/2016).

Ridwan melanjutkan, selain menemukan uang tunai dan deposito serta tabungan, pengemis perempuan paruh baya itu membawa surat-surat lain tersimpan dalam tas dibawanya selama mengemis dan mengamen.

“Surat -surat itu berupa satu berkas sertifikat tanah di daerah Tlogosari, tiga buah surat BKPB kendaraan roda dua, dan ATM Bank BNI 46. Kalau menurut alamat KTP di Kecamatan Genuk. Tapi dia tinggalnya di perumahan di Jalan Kawung, Perumnas Tlogosari, Kota Semarang,” papar Ridwan.

Saat menggeledah tas Siswari, petugas juga menemukan sebuah sertifikat tanah atas namanya.

“Sertifikat tanahnya seluas 105 meter persegi, itu atas namanya sendiri. Kalau BPKB ada yang nama dia dan nama orang lain. Mungkin nama anak-anaknya. Ngakunya dia ngamen sudah dilakukan sejak enam bulan kemarin,” sambung Ridwan.

Saat dimintai keterangan petugas Satpol PP usai diamankan, kata Ridwan, Siswari menapik uang ratusan juta tidak seluruhnya dari hasil mengemis dan mengamen.

“Uang banyak itu menurut pengakuannya dia (Siswari), hasil dari penjualan tanahnya. Sebelumnya uang yang berada di dalam deposito mencapai Rp 300 juta. Uang itu dulu hasil penjualan tanah. Dulu di dalam deposito itu ada uang 300 juta, tapi setelah dirinya berpisah dengan suami pisah ranjang itu, akhirnya uang itu berkurang-berkurang untuk biaya makan. Sampai juga buka usaha jualan ayam goreng penyet, namun bangkrut karena banyak diutangi sama orang,” beber Ridwan.

Tidak hanya soal jumlah harta dan uang Siswari terbilang mengejutkan. Ternyata dia mempunyai tiga anak saat ini duduk di bangku kuliah, di tiga kampus ternama di Kota Semarang.

Anaknya yang pertama berinisial HMS kuliah di Universitas Perbankan (Unisbank) di Jalan Tri Lomba Juang, Kota Semarang. Kemudian anak kedua berinisial SMS kuliah di jurusan Bahasa Inggris, Universitas Sultan Agung (Unisula), Jalan Raya Kaligawe, Kota Semarang.

Kemudian anak terakhir berinisial SMJ kuliah di Politeknik Negeri Semarang (Polines) di Kawasan Kampus Undip Tembalang, Kota Semarang. Dalam waktu dekat, anak keduanya akan diwisuda.

“Sekitar bulan April katanya yang anaknya kuliah Unissula mau wisuda,” kata Ridwan.

      3. Pengemis Dengan Modus Kaki Buntung Rauk 5 Juta/Bulan

Aris Setianto (27) warga asal Boyolali ini menggunakan modus kaki buntung untuk mengemis di Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Pria berpura-pura buntung ini terjaring razia Satuan Tugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta.

Aris sudah mengemis sejak tahun 2008. Aris mengaku bahwa mengemis sudah menjadi profesi yang menguntungkan untuknya. Penghasilan dari modus kaki buntungnya itu cukup besar, sehari dapat Rp 150-200 ribu.

“Dalam sebulan ia bisa dapat 4-5 juta hanya dengan mengemis. Ia juga mengontrak rumah di sekitar Tanah Tinggi, Jakarta Pusat dengan bayaran 350.000 per bulan,” kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Chaidir, Minggu (15/11/2016).

Chaidir menambahkan, pihaknya akan terus melakukan penjangkauan terhadap pengemis dengan berbagai modus. Seperti berpura-pura buntung, mengeksploitasi anaknya untuk mengemis, dan modus-modus lainnya. Hal itu melanggar Perda 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

“Jika masyarakat ingin berbagi kepada sesama, agar disalurkan ke lembaga yang resmi. Karena lembaga yang telah resmi telah terdaftar dan transparan dalam menyalurkan bantuan. Sehingga tidak dimanfaatkan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan,” pesan Chaidir.

  1. Pengemis Tajir Kantongi Rp 11 Juta Di Ibu Kota Jakarta

Edi Supriyadi, kakek berusia 78 tahun asal Kudus, Jawa Tengah ini rela jauh dari kampung halaman dan bekerja di Jakarta demi mencari uang lebih untuk menghidupi keluarganya.

Sadar tak memiliki keahilan khusus, Edi pun tak masalah harus mengemis di sekitar Kecamatan Senen. Dari hasil mengemis setiap hari, Edi mendapat keuntungan fantastis.

“Setelah digeledah ada sejumlah uang tunai senilai Rp 11 juga di dalam tasnya,” ungkap Kasie Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Sudin Sosial Jakarta Pusat, Wanson Sinaga.

Pada saat petugas melakukan razia rutin Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Setelah diamankan dan digeledah, petugas terkejut di dalam tas milik Edi yang ditaruh di gerobak berisi uang tunai Rp 11 juta.

“Makanya langsung kami naikkan ke atas mobil dan dilakukan penggeledahan tasnya,” tegas Sinaga.

Uang Edi terdiri dari pecahan Rp 100 ribu. Sedangkan uang pecahan Rp 50 ribu hanya ditemukan empat lembar. Petugas juga menemukan pisau dapur, selimut, alat penerangan dan air mineral dari dalam gerobak milik Edi Supriyadi.

“Gerobaknya juga berfungsi sebagai rumahnya. Karena kami menemukan sejumlah alat-alat rumah tangga,” terang Sinaga.

  1. Pengemis Di Aceh Punya Paspor, Emas, Ringgit Dan Uang Jutaan Rupiah

Enam orang gelandang dan pengemis (Gepeng) ditangkap Satpol PP yang beroperasi di kawasan Banda Aceh, Rabu (18/3/2016). Hal yang mencengangkan, petugas mendapatkan emas, uang rupiah hingga ringgit Malaysia.

Bahkan salah seorang dari mereka yang memiliki emas mengaku, perhiasan ini yang didapatkan dari mengemis di Banda Aceh untuk bekal menikah. Mereka sudah mengemis di Banda Aceh selama 1 bulan lebih.

“Salah satu pengemis menjawab, emas yang dimilikinya untuk mahar menikah,” jelas Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Banda Aceh, Tarmizi Yahya.

Selain memiliki paspor, emas dan ringgit, di antara gepeng ini juga memiliki uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu sebanyak Rp 1,8 juta, termasuk ringgit. Gepeng yang memegang ringgit mengaku dia hendak berangkat ke Malaysia kembali, namun butuh ongkos untuk keberangkatannya.

“Bahkan ada satu orang yang pegang uang ringgit, dia itu hendak berangkat kembali ke Malaysia, maka cari uang dulu di Banda Aceh dengan mengemis,” ungkap Tarmizi.

Sementara itu, Wakil Kapolsek Baiturrahman, Iptu Suwandi Desky dalam kesempatan yang sama membenarkan proses penangkapan gepeng ini. Katanya, dirinya juga sempat heran ketika melihat barang-barang berharga yang dimiliki para gepeng.

Para gepeng ini sempat dibawa ke kantor Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh sebelum akhirnya di bawa ke rumah penampungan milik Dinas Sosial Provinsi Aceh di Ladong, Aceh Besar.

Sumber : Merdeka.com

(Visited 99 times, 1 visits today)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!