“Jangan Dengan Melihat Pemimpin Kafir Yang Punya Program Kerja Yang Bagus, Kita Sudah Begitu Terpesona Dan Tak Mempedulikan Lagi Prinsip Akidah Kita”

Diterbitkan Tanggal: 07 / 01 / 17

Kategori: | Bukittinggi, NUSANTARA |

Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

SUMBAREXPRESS, BUKITTINGGI – Meski telah disidangkan, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah melukai hati jutaan umat Muslim diseluruh dunia, hal itu dibuktikan dengan Aksi Bela Islam 3 pada tanggal 2 Desember 2016, diperkirakan tak kurang 7 juta umat Muslim turun ke jalan memadati ibu kota. Hakekat dari aksi itu adalah gerakan ideologi soft Muslim People Power dalam bentuk aksi Super Damai yang digerakkan oleh kesamaan rasa akibat penistaan agama dan Kitab Suci Ummat Islam.

Ustadz Nasir Abdullah, salah seorang peserta Aksi Bela Islam 3, ditemui di kedimannya Jl. Syeh Jamil Jambek, Tigo Baleh, Bukittinggi mengatakan, bahwa ucapan Ahok mengenai Surat Al Maidah 51 itu murni penghinaan dan pelecehan terhadap agama Islam, tidak perlu pakar dan ahli untuk membuktikannya, karena yang merasakannya adalah umat Islam sendiri.

“Masalah penghinaan adalah soal sara, kalau sekian juta umat Muslim merasa terhina dengan kalimat Ahok, maka untuk apalagi segala macam teori lingusitik di perdengarkan, tak penting lagi mendengar para ahli bahasa memutar balik teori, berbicara tentang objek, subjek, prediket, kata sifat, dan sebagainya, karena nyatanya rasa terhina itu menghujam ke dalam hati jutaan umat Muslim. Jangankan dengan kalimat, kadang dengan sorot mata saja seseorang merasa terhina, apakah perlu dihadirkan seorang pakar sorot mata untuk membedah makna sebuah tatapan”, Ucap Nasir kepada SumbarExpress, Sabtu (7/01)

Nasir menambahkan sudah banyak umat Islam yang mengalami pendangkalan aqidah “Jargon pemimpin kafir yang jujur lebih baik daripada pemimpin muslim yang korupsi, sangat menyesatkan bahkan ini merupakan pendangkalan aqidah, bayangkan, kalau begitu nanti akan lahir ungkapan lain, lebih baik suami kafir yang penting setia daripada suami muslim tapi tidak setia, katanya.

Lebih lanjut Nasir menghimbau kepada umat Muslim untuk tidak mudah terpesona dengan kinerja bagus seorang pemimpin kafir, sehingga menggadaikan nilai-nilai aqidah yang paling prinsip.

“Jangan dengan melihat pemimpin kafir yang hebat, berani, punya program kerja yang bagus saja, kita sudah begitu terpesona dan tak mempedulikan lagi prinsip akidah kita, bagaimana jadinya jika suatu ketika kita dipertemukan dengan Dajjal, sosok yang katanya sakti mandraguna itu, yang telah ‘dipersiapkan’ Tuhan dengan segala kehebatannya untuk memperdaya manusia beriman kedalam kesesatan diakhir zaman kelak. Apa kita yakin masih kuat menahan diri untuk tak tergoda dengan umpan Dajjal?”, lanjut Nasir.

Ketika bumi sudah kering kerontang, ketika kelaparan merajalela, ketika keputusasaan menyergap pikiran setiap manusia karena begitu beratnya beban kehidupan, tiba-tiba Dajjal menawarkan kesejukan, kenyamanan, keamanan, air yang sejuk dan makanan yang melimpah, janji-janji yang membuai serta perlindungan dari huru-hara.

“Apa kita masih sanggup mempertahankan iman yang tersisa dari fitnah makhluk itu, ditengah begitu beratnya kehidupan.
Sementara misinya cuma satu dalam hadirnya yang singkat di muka bumi ini, yaitu mencabut Iman didada setiap manusia dengan segala tipu daya yang sangat menakjubkan, dan untuk kemudian menasbihkan diri sebagai Tuhan bagi mereka.

Pasti sangat berat! sehingga Nabi pun merasa harus menitipkan do’a bagi umatnya sampai akhir zaman untuk mohon perlindungan dari fitnah dajjal agar dibaca pagi dan petang.
Dan ternyata, untuk godaan yang sebegitu remehnya, sebagian kita nekad (malah merasa gagah dan begitu bangga) untuk mengingkari prinsip ajaran yang termaktub dalam buku suci!. Tutupnya.

Laporan : Joni Hermanto

Editor : Joni Hermanto

(Visited 55 times, 1 visits today)
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!